Senin, 08 Februari 2010

Mikrohidro Atasi Kemiskinan Desa

Kebutuhan listrik dirasakan sangat vital bagi masyarakat. Setiap barang elektronik di abad 21 ini pasti menggunakan energi listrik, contohnya televisi, radio, komputer dan lain-lain. Energi listrik merupakan bentuk energi yang paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan kajian ada hubungan linear antara pemakaian energi listrik perkapita dengan Gross Domestic Product (GDP) perkapita. Dengan kata lain pembangunan suatu negara tidak lepas dari konsumsi energi listriknya.


Saat ini globalisasi sudah menyebar ke seluruh dunia. Indonesia sudah 63 tahun merdeka, namun belum mampu mencukupi energi listrik seluruh rakyatnya. Sebanyak 35% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 87,5 juta jiwa diketahui hidup tanpa pelayanan listrik, dan bisa dikatakan hampir semuanya tinggal di pedesaan. Jangankan untuk memenuhi listrik di perkotaan saja sudah susah, bahkan di ibukota negara sendiri sering terjadi pemadaman listrik.

Sementara kita sedang sibuk-sibuknya untuk berbenah di sana sini untuk mengejar ketertinggalan dengan negara tetangga tapi di sisi lain kita dihadapi masalah tentang ketersediaan listrik. Pengadaan pasokan energi juga mengalami banyak kendala. Sudah bukan rahasia lagi bahwa pembangkit listrik di negara ini berasal dari energi fosil. Cadangan sumber energi fosil seperti minyak dan batubara yang banyak digunakan untuk pembangkit tenaga listrik kelak akan habis. Kebutuhan bensin 20 tahun ke depan diperkirakan akan meningkat 5 kali lipat dari tahun 2002 menjadi 48 juta kililiter. Kebutuhan solar yang di gunakan untuk PLTD akan meningkat menjadi 4,3 kali lipat atau menjadi 56 juta kiloliter. Sementara itu, produksi minyak bumi Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun.

Kebutuhan energi listrik ini diperkirakan akan meningkat dengan laju pertumbuhan penduduk dan industri. Diperkirakan hingga tahun 2020 pemerintah baru bisa memenuhi pasokan listrik menjadi 90 persen jumlah penduduk. Di tengah kondisi finansial PLN yang kurang mendukung rasanya akan bertambah sulit bagi penduduk pedesaan, terutama di desa terpencil, untuk menikmati listrik PLN. Melihat kondisi seperti ini maka pengadaan energi alternatif untuk pedesaan sangat perlu untuk dilakukan.

Berbagai alternatif telah dilakukan untuk pengadaan energi listrik. Alam Indonesia yang melimpah ditopang dengan posisinya di khatulistiwa, sudah cukup layak untuk mencari sumber energi alternatif yang baru. Namun dalam hal pengadaan energi listrik, efisiensi pengadaannya patut diperhitungkan mengingat ketersediaan sumber energi di tempat energi itu diperlukan. Misalnya energi geothermal, Indonesia merupakan negara "Arab Saudinya" geothermal karena hampir 40 persen sumber energi geothermal dunia ada di Indonesia. Walaupun sumber daya geothermal Indonesia besar namun tidak semua wilayah Indonesia mengandung geothermal. Di samping itu investasi pembangunan pembangkit listrik tenaga ini membutuhkan dana yang cukup besar. Mengingat wilayah Indonesia yang penyebaran penduduknya banyak di pedesaan maka diperlukan sumber energi yang murah dan mudah diperoleh. Oleh karena itu yang menjadi pilihan bagi kita salah satunya adalah energi mikrohidro.

Mikrohidro Si Pembawa Terang

Mikrohidro adalah pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang mempunyai prinsip kerja mirip dengan PLTA. Energi yang dihasilkan mikrohidro jika dibandingkan dengan PLTA skala besar cukup kecil sehingga berimplikasi pada sederhananya peralatan dan kecilnya areal tanah yang diperlukan untuk instalasi dan pengoperasian mikrohidro. Hal tersebut merupakan salah satu keunggulan mikrohidro, yakni tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Mikrohidro cocok diterapkan di pedesaan yang belum terjangkau listrik dari PT PLN ataupun yang sudah ada jaringan PLN nya. Mikrohidro mendapatkan energi dari aliran air yang memiliki perbedaan ketinggian tertentu. Energi tersebut dimanfaatkan untuk memutar turbin yang dihubungkan dengan generator listrik. Mikrohidro bisa memanfaatkan ketinggian air yang tidak terlalu besar, misalnya dengan ketinggian air 2,5 m bisa dihasilkan listrik 400 W. Potensi pemanfaatan mikrohidro secara nasional diperkirakan mencapai 7.500 MW, sedangkan yang dimanfaatkan saat ini baru sekitar 600 MW. Meski potensi energinya tidak terlalu besar, namun mikrohidro patur dipertimbangkan untuk memperluas jangkauan listrik di seluruh pelosok nusantara.

Pesatnya pembangunan di berbagai provinsi tentunya akan meningkatkan kebutuhan energi listrik. Mengingat tidak meratanya penyebaran energi listrik di berbagai provinsi maka dibutuhkan pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang meningkat dengan cepat. Untuk itu mikrohidro sangat terbuka sebagai objek usaha swasta. Hal ini ditopang dengan banyaknya anak sungai yang mengalir di berbagai provinsi dan banyaknya irigasi di daerah pertanian. Selain itu, peluang ini dapat dikaitkan dengan target pemerintah untuk meningkatkan electrification ratio kepala keluarga hingga 90 persen pada tahun 2020. Jika dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga diesel dan tenaga gas maka pembangkit listrik mikrohidro ini dapat bersaing dengan biaya pembangkit yang relatif murah.

Ini sungguh merupakan sebuah peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi yang bisa meminimalisir angka kemiskinan desa.

Sumber : IMIDAP

0 comments:

Poskan Komentar