Sabtu, 24 Oktober 2009

Nikah Membawa Berkah

Imam tiga pekan lagi menikah. Tapi, dia sama sekali tidak punya uang untuk persiapan menyambut hari bahagia itu. Padahal, dia sudah berjanji kepada calon mertuanya akan membantu biaya resepsi sederhana sekadarnya. Objekannya gagal meskipun dia sudah menerima uang muka. Untung uang muka itu tidak diambil lagi oleh kliennya. Proyek dengan sebuah lembaga kursus untuk membuat kaus juga gagal.


Ya, selama ini Imam memang kerja serabutan, dari nyablon, bangun rumah, servis elektronik, hingga mengurus KTP ke kelurahan. Meskipun demikian, dia tetap bertekad melangsungkan pernikahan pada hari yang telah ditentukan keluarga calon istrinya karena undangan memang sudah disebar sebagian.

Imam terus berusaha, tapi hasilnya tetap saja nihil. Beberapa orang kerabat yang dimintai tolong mengaku tak punya uang. Bahkan, seorang saudaranya yang dia harap dapat “di tubruk” untuk meringankan bebannya mengatakan begini,

“Sebenarnya saya ada uang, tapi si Edo minta dibeliin motor. Kuliahnya kan jauh, di Depok, jadi gak bisa gantian sama abangnya.”

Dia datangi pula beberapa orang kenalan dekatnya, hasilnya sama saja. Imam benar-benar syok. Tapi, tekadnya untuk menikah sudah bulat, apapun yang terjadi. Dia yakin, semua kesulitan pastilah ada jalan keluarnya. Ya, pasti. Makanya dia pantang surut. Tapi sejauh ini, dia tidak mengatakan pada calon istri dan keluarganya maupun orang tuanya. Dia tidak mau kesulitannya diketahui orang. Setiap malam dia bangun untuk tahajud. Dia merasa damai setelah mengadukan beban hatinya kepada Allah, dan paginya dia terus berusaha mencari uang.

Pada saat detik-detik menjelang pernikahan, Allah Yang Maha Penyayang mengabulkan doanya. Tiba-tiba segala kemudahan dia dapatkan. Seorang temannya menyumbang air mineral dalam jumlah yang lumayan banyak ketika tahu dia akan menikah. Tenda dan kursi “disumbang” oleh seorang kenalan yang pernah dia tolong menguruskan KTP. Dan, separuh katering disumbang oleh bibi calon istrinya dengan pembayaran dicicil kapan saja!

Anak-anak nongkrong yang dulu pernah ditolong Imam meminjamkan sound system dan segala tetek bengeknya tanpa meminta upah. Terakhir, pencatat akad nikah dari Kantor Urusan Agama juga menolak dikasih “amplop” oleh ayahnya.

Walhasil, Imam bisa melangsungkan pernikahan dengan “damai” tanpa rasa waswas. Dia bersyukur kepada Allah tak habis-habis. Ya, ketika dalam kecemasan menjelang pernikahan, dalam sujud akhir pada setiap shalatnya, dia selalu berdoa sambil berurai air mata:

“Ya Allah, jangan Engkau persulit hamba mengikuti Sunnah Baginda Rasulullah. Tolonglah hamba, beri hamba jalan keluar dari kesulitan keuangan. Kalau bukan kepada-Mu hamba mengadukan hajat hamba, lalu kepada siapa lagi hamba memohon pertolongan?”

Imam memang berdoa kepada Tuhan yang tidak tuli dan tidak tidur, juga tidak pernah meninggalkan hamba-hambaNya.

Sumber : Rahasia Rezeki, Jodoh, dan Mati – Dwi Bagus M.B – Mizania

0 comments:

Poskan Komentar