Ada satu hal yang merisaukan hati Bu Tati. Jaka, anak sulungnya, meskipun usianya sudah kepala “3″, belum kelihatan tanda-tanda mau berumah tangga. Kalau ditanya, dia selalu menjawab sambil bercanda. Tidak pernah serius. Padahal dia sudah mapan, sudah punya rumah sendiri, yang sekarang dikontrakkan. Jaka memang pekerja keras. Itu mungkin karena sejak SMP Jaka sudah ditinggal mati ayahnya. Jadi, dia mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Karena kegigihannya, dia berhasil menyelesaikan kuliah tepat waktu sambil bekerja.
Seperti biasa, sebelum berangkat kerja Jaka selalu sarapan bersama Ibu dan adiknya. Saat sedang asyik menikmati makan pagi, terdengar suara si Omen berteriak-teriak heboh. Si Omen adalah monyet peliharaan Jaka. Jaka dan Ibunya pun bergegas keluar. Oh, ternyata ada Mia, tetangganya, yang sedang mengajak main Faiz, kemenakannya yang masih berumur 3 tahun. Rupanya, si Omen marah lantaran Mia memberinya pisang sedikit demi sedikit.
“Hati-hati Mia, si Omen suka cemburuan. Takut yang punya diambil kali!” Dia mewanti-wanti Mia sambil bercanda. Mia memang sering mengajak Faiz main ke rumah Jaka, terutama kalau Faiz sedang rewel atau susah disuruh makan. Setelah melihat si Omen, biasanya Faiz langsung anteng dan mau makan. Seperti pagi itu, Faiz menangis karena mau ikut mamanya berangkat kerja. Mia segera membawa Faiz melihat si Omen.
Sebelum berangkat kuliah, Heny, adik Jaka, sempat menggendong Faiz sambil bertanya pada ibunya, “Sudah pantes, kan, Bu?”
“Sudah. Tapi, Masmu ini yang lebih pantes,” Jaka menyela.
“Makanya, buru-buru cari calon istri!” ledek Heny.
“Calon bini sih nggak usah dicari, kalau sudah waktunya ntar dia datang sendiri.”
Ibu Tati dan Mia yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum.
Di jalan, sambil dibonceng motor, Heny berkata kepada kakaknya, “Mas, kalo dipikir-pikir, Mbak Mia itu cantik juga ya.”
“Memangnya kenapa kalo dia cantik?” tanya Jaka.
“Apa Mas nggak tertarik? Pacarin aja!” Heny memberi saran.
“Gilole! Kakak dan iparnya itu teman kuliah gue!”
“Memangnya kenapa? Kakaknya juga tetangga emak gue!” balas Heny.
Begitulah keakraban Jaka dengan adiknya. Mereka memang biasa bercanda dan saling meledek.
Tapi, rupanya kata-kata Heny menjadi bahan pikiran Jaka. Seharian itu dia ingat terus pada Mia. Terbayang wajahnya yang cantik, apalagi kalau sedang tersenyum. Manis sekali. Juga terngiang kembali kata-kata Heny.
Perlahan tapi pasti, benih-benih cinta tumbuh di hati Jaka. Dia jadi gelisah. Dia juga sering tersenyum-senyum sendiri. Di samping itu, dia jadi rada kikuk bila bertemu Mia. Akhirnya setelah kurang lebih dua bulan berlalu, Jaka menyerah juga. Dia harus mengakui jatuh cinta pada Mia.
Singkat cerita, suatu hari Jaka membawa ibunya bertemu dengan kakak Mia, Rudy, teman kuliahnya dulu, untuk menyampaikan kabar baik bahwa dia akan melamar Mia. Tentu saja Rudy sangat senang.
“Harusnya yang berjasa mempertemukan gue sama Mia, gue bawa juga ke sini, Rud.”
“Siapa?” tanya Rudy.
“Si Omen, monyet gue!” jawab Jaka asal, “Kalo nanti gue jadi nikah sama Mia, itu sebenarnya yang jadi mak comblang si Omen. Jadi gue dijodohin sama monyet!”
Semua tertawa mendengar kelakar Jaka. Dan memang, akhirnya Jaka menikah dengan Mia.
Sumber : Rahasia Rezeki, Jodoh, dan Mati – Dwi Bagus M.B – Mizania
Minggu, 25 Oktober 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)





0 comments:
Poskan Komentar